I'm not me when I'm with you
Aku tak menjadi diriku ketika bersamamu
Aku tak lagi menjadi apa yang seharusnya
Dan entah kapan aku menjadi lemah
Merasa tak berdaya
Mungkin tidak seharusnya aku berubah
Tidak seharusnya aku bergantung pada orang lain
Karena tak selamanya mereka dapat mengerti
And I hate to be weakness
It's not me
Dulu aku selalu melakukan apapun yang ingin aku lakukan
Pergi kemanapun tempat yang aku suka
Menjadi apapun yang aku inginkan
Lalu
Kenapa semua itu hanya terasa seperti kenangan?
Apakah selama ini aku hanya berpura-pura?
Mungkin aku terbuai
Hufh. Just another wondering.
A big qustion in my mind.
Is the way I took just another mistakes?
#random #kegalauanditengahmalam #abaikanpostingandiatas
0 Tentang rasa Tentang kita
Tentang rasa, tentang kita
Tak banyak yang bisa ku ucap
untuk menggambarkan apa yang aku rasa saat ini.
Lidahku kelu dan tubuhku membeku.
Untaian kata pun mungkin tak akan cukup merangkai semua rasa yang terpendam dalam hati.
Maka, biarkan saja.
Biarkan saja, rasa ini mengalir sesuka hati.
Mengisi setiap pori-pori urat nadi. Memompa setiap hela nafas yang terpatri.
Karena semua ini
Adalah tentang rasa, tentang kita.
Tak banyak yang bisa ku ucap
untuk menggambarkan apa yang aku rasa saat ini.
Lidahku kelu dan tubuhku membeku.
Untaian kata pun mungkin tak akan cukup merangkai semua rasa yang terpendam dalam hati.
Maka, biarkan saja.
Biarkan saja, rasa ini mengalir sesuka hati.
Mengisi setiap pori-pori urat nadi. Memompa setiap hela nafas yang terpatri.
Karena semua ini
Adalah tentang rasa, tentang kita.
0 Still be mine
Aku memperhatikanmu dalam diam
Dalam keremangan cahaya temaram
yang merasuk ke dalam pancaran bintang
Aku memperhatikanmu dalam diam
Dengan jutaan kata yang teredam
Mencoba berteriak namun menguap sia sia
Apa kau tahu
Namamu ada dalam tiap doa yang terucap
Bayangmu hadir dalam tiap mimpi yang terlelap
Lembut suaramu terngiang di tiap semilir angin yang bertiup
Hangat tanganmu yang selalu menggenggam jemariku erat
Membuatku merindu di tiap menit yang berdetak
Semuanya tentangmu
Membuatku bahagia sekaligus takut
Sampai aku tak berani membayangkan jika kau menghilang
Sampai sesak rasanya
Karena sekarang kau menjelma
menjadi bagian yang penting dalam hidupku
Jadi, tetaplah disini
Tetaplah berada di sisi
Selamanya...
Dalam keremangan cahaya temaram
yang merasuk ke dalam pancaran bintang
Aku memperhatikanmu dalam diam
Dengan jutaan kata yang teredam
Mencoba berteriak namun menguap sia sia
Apa kau tahu
Namamu ada dalam tiap doa yang terucap
Bayangmu hadir dalam tiap mimpi yang terlelap
Lembut suaramu terngiang di tiap semilir angin yang bertiup
Hangat tanganmu yang selalu menggenggam jemariku erat
Membuatku merindu di tiap menit yang berdetak
Semuanya tentangmu
Membuatku bahagia sekaligus takut
Sampai aku tak berani membayangkan jika kau menghilang
Sampai sesak rasanya
Karena sekarang kau menjelma
menjadi bagian yang penting dalam hidupku
Jadi, tetaplah disini
Tetaplah berada di sisi
Selamanya...
0 Daisuki dakara
Debaran itu kembali datang.
Menjelma menjadi detakan keras yang terasa sepuluh ribu kali lebih cepat.
Menghantam tanpa memberi peringatan.
Rasanya sakit, namun di saat yang sama juga terasa menyenangkan.
Entah bodoh atau gila yang jelas Aku menyukainya.
Aku tak mengira pada awalnya.
Padahal sudah cukup lama ia menghilang.
Aku juga tak terlalu berharap rasa itu akan kembali datang.
Karena aku tahu, masih sulit rasanya untuk membuka hati.
Takut jika nanti akan terluka kembali.
Sedangkan luka lama itu tak pernah benar-benar pulih.
Namun kali ini berbeda.
Aku suka disaat jantungku berdetak detak saat membaca pesannya.
Aku suka tersenyum saat benakku melayang memikirkannya.
Aku suka melihatnya dari kejauhan.
Sepertinya aku memang menyukai dia. Eh, bukan. Kata kata itu kurang cocok. Hm, coba kita lihat.
Oh, benar.
Karena aku...
Jelas-jelas menyukainya.
0 54
Lima Puluh Empat.
Bukan hanya sekedar angka acak. Bukan pula jumlah yang sedikit. Lima puluh empat adalah usia-mu, Bapak. Semakin tuakah, dirimu? Dengan rambut yang mulai memutih di sela surai hitam pekatmu. Kulit yang mulai mengeriput di balik tulang yang kian merapuh.
Aku tahu, ini sangat terlambat. Seharusnya aku posting tulisan ini sehari sesudah hari lahirmu yang tanggalnya sama dengan hari lahirku juga, 15 maret. Tapi tak mengapa.
Aku hanya memanggilmu, Ayah.Disaat aku kehilangan arah...Aku hanya memanggilmu, Ayah.Jika aku tlah jauh darimu...
Di usiamua yang tidak lagi muda. Tubuh legam tersengat sinar mentari di sela-sela peluh yang membasahi sekujur tubuh hanya demi menafkahi keluarga yang kau cintai, aku tahu bahwa kau sudah berupaya sekuat tenaga. Bahkan kau rela mempertaruhkan nyawa hanya demi melihat sebuah senyum terukir di sudut bibir anak bungsumu ketika memeluk sebuah raket dari hasil jerih payahmu seharian.
Bapak. Aku tahu tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membalas semua jasamu. Kau yang bahagia ketika menggendongku sewaktu usiaku lima tahun. Kau yang tertawa melihatku melontarkan gurauan garing yang bahkan tidak bisa di bilang lucu. Kau yang mengusap aiirmata ketika aku menangis akibat terjatuh ke dalam lumpur. Kau yang terlihat gusar ketika aku mulai bandel karena sering pulang larut malam. Kau yang marah ketika aku bertengkar dengan adik-adikku. Dan kau yang tersenyum bangga ketika melihatku menjadi seorang sarjana.
"Semoga kau menjadi sosok bijaksana yang selalu mencintai keluarga.
Semoga kau tetap menjadi seseorang yang bisa aku andalkan, menuntunku dalam kegelapan, serta mengantarku ke gerbang pernikahan suatu saat nanti."
Sepenggal doa.
Ya, hanya ini yang bisa aku berikan padamu disertai sekotak donat di usiamu yang sudah lebih dari separuh abad. Hanya sepenggal doa yang bisa aku munajatkan kepada Sang Pencipta. Dan dengan bangga juga aku katakan bahwa. AKU MENYAYANGIMU, BAPAK.
0 Sebuah Perjalanan Menuju Petualangan
Penat!
Ingin menghilang!
Aku bosan dengan hiruk pikuk ibukota. Polusi mencekik tenggorokan dan macet yang tidak berujung. Alasan itulah yang mendorongku untuk menghabiskan liburan kali ini. Tiga hari yang terasa amat panjang. Jadilah sebuah perjalanan menuju petualangan itu aku mulai.
Tidak. Aku ingin pergi ke tempat yang lebih dari hanya sekedar Mall beton ataupun bioskop 21. Tempat yang bisa membuatku melupakan kejenuhan, tempat yang membuatku tidak usah berfikir terlalu keras. Hanya bersenang-senang. Keputusan ini aku ambil H- 2 menjelang keberangkatan. Dadakan? Iya. Nekad? Sudah pasti. Sesuatu yang belum pernah aku alami seumur hidupku yang kini beranjak 24.
Dengan hati berdebar, ku ayunkan langkah menuju terminal Pulo Gadung bersama seorang teman, Lika namanya. Terkurung 11 jam dalam sebuah bus yang sempit cukup membuatku gila, sebenarnya. Namun, aku meyakinkan diriku betapa menyenangkannya jika sudah berada di tempat tujuan nanti.
Menjelang isya, sampailah kami di sebuah kota bernama Purwokerto yang di sambut oleh Thy dan Noe. Malam itu kami hanya makan karena aku masih mengalami jetlag (cieelah bahasanya). Aku menginap di kos-an Thy, sementara temanku menginap di rumah temannya yang lain. Perjalanan hari ini cukup menguras tenaga. Badanku sakit. Aku hanya ingin tidur, sumpah.
Ingin menghilang!
Aku bosan dengan hiruk pikuk ibukota. Polusi mencekik tenggorokan dan macet yang tidak berujung. Alasan itulah yang mendorongku untuk menghabiskan liburan kali ini. Tiga hari yang terasa amat panjang. Jadilah sebuah perjalanan menuju petualangan itu aku mulai.
Tidak. Aku ingin pergi ke tempat yang lebih dari hanya sekedar Mall beton ataupun bioskop 21. Tempat yang bisa membuatku melupakan kejenuhan, tempat yang membuatku tidak usah berfikir terlalu keras. Hanya bersenang-senang. Keputusan ini aku ambil H- 2 menjelang keberangkatan. Dadakan? Iya. Nekad? Sudah pasti. Sesuatu yang belum pernah aku alami seumur hidupku yang kini beranjak 24.
Jumat, 23 Maret 2012
Dengan hati berdebar, ku ayunkan langkah menuju terminal Pulo Gadung bersama seorang teman, Lika namanya. Terkurung 11 jam dalam sebuah bus yang sempit cukup membuatku gila, sebenarnya. Namun, aku meyakinkan diriku betapa menyenangkannya jika sudah berada di tempat tujuan nanti.
Menjelang isya, sampailah kami di sebuah kota bernama Purwokerto yang di sambut oleh Thy dan Noe. Malam itu kami hanya makan karena aku masih mengalami jetlag (cieelah bahasanya). Aku menginap di kos-an Thy, sementara temanku menginap di rumah temannya yang lain. Perjalanan hari ini cukup menguras tenaga. Badanku sakit. Aku hanya ingin tidur, sumpah.
Sabtu, 24 Maret 2012
Hari ini kami memutuskan untuk tamasya ke Baturraden. Salah satu tempat rekreasi yang ada di Purwokerto. Dengan sebuah motor pinjaman, aku, thy yang di bonceng Noe pun berangkat ke sana. Pokoknya aku sudah memutuskan, seharian ini waktunya bersenang-senang. Mulai dari gunung sampai pantai. Seperti puisinya Rangga, ku lari ke gunung kemudian teriakku, ku lari ke pantai kemudian menyanyiku. Haha. Semuanya kami Jelajahi, tidak ketinggalan pula Lika dan teman lelakinya.

